Aku ingin bercerita tentang sobat terbaikku yang pernah aku miliki. Ayahku mengenalkan aku dengannya di lima tahun usiaku. Meski belum banyak mengerti, aku masih ingat kata-katanya, “kapanpun dan dimanapun, jadikanlah ia peganganmu, Insya Allah kamu akan selamat”. Setelah saat itu, aku mulai rajin untuk mengenalnya. kemana pergi selalu ku ajak serta. Ia bukan saja sobat terbaik bagi diriku, tapi juga sobat terbaik bagi semua orang, begitu cerita ibuku.
Ia tidak pernah meminta diajak serta, karena semestinya kita yang membutuhkan keberadaannya kemanapun langkah kaki kita. Senantiasa memberikan jawaban atas semua tanya, mengoleskan kesejukan untuk setiap hati yang gersang. Bagi yang gelisah dan gundah, ia akan menjadi obat mujarab yang mampu memberikan ketenangan. Ia juga menjadi pelipur lara bagi yang bersedih. Tanpa diminta, jika kita mau, ia slalu menunjukkan jalan yang benar dengan cara yang sangat arif. ikuti jalannya jika mai selamat atau tak perlu hiraukan peringatannya asal mau dan sanggup menanggung semua resikonya.
Ia tak pernah memaksa kita untuk mematuhinya, karena itu bukan sifatnya. Tutur katanya, indah menyejukkan, menyiratkan kebesaran Mha Pujangga dibalik untaian goresan barisan hikmah padanya. Tak ada yang sehebat ia dalam bertutur, tak ada pula yang seindah ia dalam bersapa. Hingga akhirnya, setiap yang mengenalnya, senantiasa ingin membawanya serta kemanapun, terik ataupun mendung, ia kan setia menemani. Cukup hanya dengan menyelami kedalamannya, tak terasa setitik air bening mengalir dari sudut mataku. Hingga sati masa, aku begitu mencintainya. Sungguh tiada tanding Maha Pujangga pencipta sobat terbaikku ini.
Pernah aku lupa tak membawanya serta ke satu tempat. Esoknya sewaktu ke tempat yang berbeda, aku tak mengajaknya serta, karena kupikir untuk ke satu tempat ini, aku merasa tak pantas membawanya serta. Esok harinya dan seterusnya, entah lupa entah sudah terbiasa sobatku ini tak pernah lagi ku ajak serta. Kubiarkan ia berhari-hari bersandar di salah satu sudut kamarku. Aku semakin lupa hingga berjalnnya waktu, padahal ia senantiasa setia menungguku hingga berdebu.
Hingga satu saat, bukan sekedar lupa, bahkan aku mulai malu untuk mengajaknya. Disaat yang sama, semakin tak sadar jika diri ini telah jauh terseret dari jalur yang semestinya. Tapi aku tak peduli, pun ketika seorang teman menyampaikan teguran dari sobat terbaikku agar aku memperbaiki langkahku. Aku jawab, ia cerewet, terlalu mencampuri urusanku.
Dan akhirnya, langkahku terseok-seok, pendirianku goyah hingga akhirnya tubuhku limbung. Mata hati ini mungkin telah mati hingga tak mampu lagi membedakan mana putih mana hitam. Semakin dalam aku terperosok, tanganku mengapai-gapai, nafasku sesak oleh lupur dosa. Disaat hampir sekarat itu, mataku masih mampu menangkap sesosok kecil sarat debu, saat kurebahkan tubuh di kamar.
Sobat terbaikku yang pernah ku miliki, ia masih setia menungguku di sudut kamar, dan semakin berdebu. Ku hampiri, perlahan ku sentuh kembal. “Jangan ragu, kembalilah. Aku masih sobat terbaikmu. Ajaklah aku kemanapun pergi. kuat seolah ia berbisik kepadaku dan menarik tanganku untuk segera menolongku.
Ingin ku menangis setelah sekian lama meninggalkannya. Ternyata, ia teramat setia jika kita menghendakinya. Kini bersamanya kembali kurajut jalinan persahabatan. ku taingin kembali masuk dalam jurang kesesatan.
Pesanku…ku yakin kita punya teman, sobat terbaik. Jangan pernah meninggalkanya, walau hanya sesaat..